PIERRE Cardin, Chanel, dan Dior telah membuktikan bahwa China merupakan pasar potensial bagi label mode eksklusif. Karenanya, tak heran bila semakin banyak luxury brand yang ikut memperluas pasarnya di negara berpenduduk terpadat di dunia tersebut.
Selama beberapa dekade terakhir, Asia terbukti menjadi pasar penting bagi pelaku mode barat, terutama China, yang tidak hanya menawarkan konsumen dalam jumlah masif, melainkan juga sebagai sumber tenaga kerja serta bahan baku murah. Namun, perkembangan ekonomi yang pesat di China, terlebih setelah gempuran resesi yang menyerang dunia Barat, membuat potensi pasarnya menjadi jauh lebih menggiurkan. Hal itu dibuktikan banyak label mode besar yang mendulang banyak pundi di pasar China ketika pasar Eropa dan Amerika tersendat.
Karenanya, wajar bila Vivienne Westwood berambisi untuk membuka 20 butik baru di China. Sementara Burberry telah mengonfirmasi untuk menambah 66 toko, dari 44 yang sudah ada hingga 2012 mendatang. Tidak hanya dua label mode papan Inggris itu saja, label aksesori kenamaan asal Amerika, Coach, pun berencana untuk membuka 20 gerai di China sepanjang 2010. Adapun Ferragamo akan membuka 10 toko baru.
James Dorn, analis pasar dari Cato Institute, mengatakan bahwa China merupakan pasar yang bukan hanya berkembang pesat, juga stabil. “Ketika saya mengunjungi China pada tahun 1988, kebanyakan orang di Shanghai masih menggunakan sepeda dan tidak tahu arti mode, tapi sekarang Shanghai adalah kota yang penuh gemerlap dengan gedung-gedung bertingkat, hotel mewah, dan butik-butik papan atas,” ujarnya.
Perkataan Dorn dibuktikan dengan saling menyusulnya pembukaan flagship store sejumlah label kenamaan lengkap dengan pesta bertabur bintang. Bulan lalu, Marion Cottilard dan Charlize Theron menjadi bagian dari tamu undangan yang menghadiri pertunjukan debut koleksi Dior dari John Galliano di Shanghai.
“Evolusi yang terjadi di Shanghai bukan hanya dari segi konsumsi melainkan juga sofistikasi para konsumennya,” ujar CEO Christian Dior Sidney Toledano. “Konsumen China kini menginginkan sesuatu yang ikonik, yang merefleksikan tidak hanya status sosial baru mereka, juga kualitas dan keunikan,” paparnya.
China memang pantas menjadi incaran para pelaku mode papan atas. Tahun lalu konglomerasi mode LVMH mengumumkan peningkatan penjualan yang signifikan di pasar China, padahal iklim ekonomi global masih mendung. termasuk penjualan batik solo
Data LVMH menyebutkan bahwa konsumen China membelanjakan USD7,5 miliar untuk produk mewah dengan pertumbuhan penjualan sebesar 16 persen-18 persen per tahun.
“China sekarang tidak lagi dilihat sebagai pusat produksi produk massal berharga murah. Konsumen China mulai menganggap pentingnya sebuah brand image dan mereka menuntut hal yang sama dari produk yang mereka beli,” sebut Jessica Lo, analis dari China Market Research Group.
“Shanghai kini memang tengah menjadi kota incaran bagi banyak label mode, setelah Beijing, tapi kota lain seperti Guangzhou juga menjanjikan potensi pasar yang luar biasa dan itu menjadikan China layaknya mata air yang tak pernah mengering dalam hal potensi pasar,” pungkas Toledano.






